26 September 2007

Kisah Pengamen

Panas terik.....

Saya duduk di tepi jendela sebelah kiri bus yang saya tumpangi, bangku dua, hendak berangkat kuliah.

Selama perjalanan, seorang laki-laki musisi jalanan dengan kostum seadanya yang mungkin biasa kita sebut dengan pengamen...... pastinya beraksi.

Saya tidak terlalu tertarik, baik lagunya pun suaranya. Entah sudah berapa lagu ia nyanyikan, tetapi saya tak berniat memberikan uang. Prinsip saya, saya akan memberikannya jika saya menikmati lagunya.

Selesai bernyanyi, ia membuka kantung recehannya. Saat ia melewati saya, refleks saya gunakan tangan kiri untuk menolak. Pikir saya..... jika pakai tangan kanan punggung tangan saya akan membelakanginya.

Tak disangka....

Ia berhenti berjalan tepat di sebelah bangku saya, dengan suara yang tidak perlahan, ia berujar:
"Maaf... Saya yakin mbak orang berpendidikan, dan saya yakin mbak pasti tahu.... tangan mana yang baik meskipun untuk menolak".
deg....!!!
Salahkah pendengaran ini??? Ternyata tidak! Saya terpana. Orang-orang menatap saya. Malu??? Ya!!!
Tak sempat saya berkata maaf, pengamen itu telah turun.

Apa pelajaran yang saya dapat??
Ini dia...!!!!!!
Betul, jika ada pepatah yang mengatakan "don't judge a book by it's cover".
Sungguh, hari itu mengesankan saya.

(Bogor-Jakarta, 2005)

Tidak ada komentar: