30 September 2007
think...
Yang penting kita usahakan agar hidup kita bermanfaat untuk orang lain.
Paling tidak... perbanyak tersenyum, karena tersenyum bisa membahagiakan hati.
Seperti kata pepatah jawa "ulat sumeh gawe renaning ati wong akeh" hehehe padahal saya bukan orang jawa lho...
26 September 2007
C i n t a
Milikilah cinta karena semua memerlukan cinta.
Sumbangkanlah cinta karena sekeliling kita memerlukan cinta.
Terimalah cinta karena semua berhak menerima cinta (kecuali syaithoonirrojiim).
Bentuk cinta secara garis besar:
Menghormati orang tua dan guru, akur dengan sodara, rukun dengan tetangga, berteman yang baik, sopan di masyarakat, ramah lingkungan, dan jangan dilupakan ada yang lebih penting......... sholat dan mengaji, ceileeee... Yes!
Pacaran?? Gimana kalo getting married dulu hehehe..
Sebenarnya, apa sih cinta itu???
Aku setuju bila ada yang berpendapat, cinta adalah kata yang terdiri dari lima huruf yang memiliki banyak arti. Ya, setiap orang mempunyai persepsi sendiri-sendiri.
Menurutku sendiri, cinta itu seperti coklat...... manis!
seperti rintik hujan yang menetes di atas kepalaku,
seperti gravitasi yang menarik-narikku ke pusat bumi,
aku kembali dan kembali lagi.
Bahkan bisa menaikkan kadar oksitosinku di dalam darah.
(oksitosin adalah suatu hormon di dalam tubuh yang menyebabkan perasaan nyaman pada diri kita).
Terlepas dari itu semua, yang terpenting bukan penjelasan harfiahnya, tapi bagaimana memaknai cinta dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitcuuu....
Prasangka
Aku pergi untuk suatu keperluan dengan mengendarai motor. Sambil santai dan waspada aku melenggang saja di jalan raya. Tiba-tiba, bunyi klakson sebuah angkot terdengar nyaring tepat di belakangku, tin... tin... tin... Terus dan terus.... Telingaku pengang. Aku jadi mengumpat dalam hati... Perasaan dah minggir deh! Apalagi banyak bus berseliweran!
Akhirnya, aku berjalan lebih merapat ke sisi supaya angkot itu tenang. Betul khaann.... Angkot itu menyalip aku. Heran, setelah ia di depanku, klakson itu masih saja dibunyikan oleh supirnya. Tin... tiiin... tin... Aku kan jadi penasaran! Kok masih bunyi?!! Aku perhatikan saja isinya, angkot itu masih kosong ya, belum ada penumpang. Nah lho....
Ternyata.... si supir angkot itu memang sedang mengklaksonkan para pengguna jalan di sepanjang pinggir jalan raya, maksudnya untuk mengajak orang-orang itu supaya naik Angkotnya! Astaghfirullah..! Aku sudah salah sangka... Ya ampuun...! Akhirnya, aku malah tertawa-tawa.... Menertawakan diri sendiri. Lucu aja. Duuuhhh... GR banget sihhh!!!
Refleksi:
Mungkin, hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja dan dalam bentuk apa saja. Dan memang sudah fitrahnya manusia untuk berprasangka. Tinggal kita yang memilih, mau prasangka baik atau prasangka buruk? Akupun masih harus belajar tentunya.Jadi, yuk berhati-hatilah dengan prasangka.
Ketika Pagi
di tepi jalan raya kota Jakarta, laki-laki paruh baya menarik gerobak tua.
Tahukan wahai sahabat...
Dua anak kecil dan seorang perempuan dewasa duduk di dalamnya. Mungkin anak dan istrinya.
Pakaian yang melekatnya amatlah lusuh. Rambut anak-anaknya yang kemerahan berusaha di sisir rapi oleh sang bunda. Tak luput dari mataku.
keesokan harinya... Pemandangan itu melintas lagi. Di tempat yang sama. Semuanya tertawa.... Bahagia... Ada setumpuk semangat terpancar dari wajah-wajah polosnya.
Keesokan harinya lagi... Aku melihatnya lagi. Masih di tempat yang sama. Kali ini semua diam... Mungkinkah menahan lapar?
Dan setiap pagi aku melihatnya... Selalu di tempat yang sama.
Kadang tertawa.... Kadang membisu...
Aku tak tahu kemana mereka pergi. Yang kutahu, setiap pagi meramaikan Jakarta.
Tak peduli riuhnya kota...
Tak peduli rintikan hujan...
Tak peduli penatnya cuaca...
Lalu... Apa yang aku lakukan?? Tidak ada!!
Rasanya sangat tak berarti jika hanya berempati.
Semoga saja......... kita bisa belajar dari kesahajaan keluarga kecil itu.
(Jakarta, 2005).
Kisah Pengamen
Saya duduk di tepi jendela sebelah kiri bus yang saya tumpangi, bangku dua, hendak berangkat kuliah.
Selama perjalanan, seorang laki-laki musisi jalanan dengan kostum seadanya yang mungkin biasa kita sebut dengan pengamen...... pastinya beraksi.
Saya tidak terlalu tertarik, baik lagunya pun suaranya. Entah sudah berapa lagu ia nyanyikan, tetapi saya tak berniat memberikan uang. Prinsip saya, saya akan memberikannya jika saya menikmati lagunya.
Selesai bernyanyi, ia membuka kantung recehannya. Saat ia melewati saya, refleks saya gunakan tangan kiri untuk menolak. Pikir saya..... jika pakai tangan kanan punggung tangan saya akan membelakanginya.
Tak disangka....
Ia berhenti berjalan tepat di sebelah bangku saya, dengan suara yang tidak perlahan, ia berujar:
"Maaf... Saya yakin mbak orang berpendidikan, dan saya yakin mbak pasti tahu.... tangan mana yang baik meskipun untuk menolak".
deg....!!!
Salahkah pendengaran ini??? Ternyata tidak! Saya terpana. Orang-orang menatap saya. Malu??? Ya!!!
Tak sempat saya berkata maaf, pengamen itu telah turun.
Apa pelajaran yang saya dapat??
Ini dia...!!!!!!
Betul, jika ada pepatah yang mengatakan "don't judge a book by it's cover".
Sungguh, hari itu mengesankan saya.
(Bogor-Jakarta, 2005)
B-o-g-o-r dan A-k-u
kotaku Kota Hujan
tak terhitung aku berganti payung
dan kini.....
rusak lagi...
Bogor kota indah sejuk nyamanbagai bunga di dalam tamanslalu disinggahi wisatawansungguh menarik perhatiandi sana banyak pemandangan dan peristirahatanyang indah teduh serta damaidi sana aku dilahirkan dan aku dibesarkandi kota kesayangan

